logo ADS IPB agribusiness development station

Guru Besar IPB: Tertinggal 20 Tahun, Petani Hortikultura Butuh Pendampingan

2 November 2016

pendampingan petaniDalam Orasi Ilmiah Guru Besar di Kampus IPB Darmaga, Bogor (29/10), Prof.Dr. Anas D Susila, Guru Besar Fakultas Pertanian (Faperta) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan terobosan teknologi maju dan pendampingan akan meningkatkan kesejahteraan petani sayuran di masa depan.  Ketertinggalan yang cukup jauh dari negara tetangga dapat diatasi dengan terobosan strategi penelitian dan introduksi teknologi maju yang tepat.

“Bidang hortikultura masih mampu memberikan Nilai Tukar Petani (NTP) yang lebih baik dari pada tanaman perkebunan dan tanaman pangan, artinya bidang ini masih mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Kemudahan bagi petani dalam mengakses berbagai POB teknologi maju dan pemasaran yang difasilitasi oleh lembaga pendamping petani semacam Agribusiness Development Station (ADS) akan mampu meningkatkan daya saing petani dalam industri sayuran. Tersedianya teknologi maju yang dirakit dengan mempertimbangkan kelestarian sumberdaya alam, dan adanya dukungan kebijakan pemerintah yang memihak kepada kepentingan petani, akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sayuran secara berkesinambungan,” paparnya.

Saat ini dalam sistem agribisnis sayuran, petani hanya mendapatkan 9% dari nilai akhir barang, yang 91% merupakan hasil yang diterima di luar sub-sistem budidaya. Penataan rantai pasokan dengan memfasilitasi petani, pembuatan packing house sebagai tempat penjualan produk, dan adanya pendampingan di bidang produksi diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sayuran.

Model pendampingan teknologi dan pemasaran produk pagi petani sayuran telah dikembangkan di IPB sebagai model ADS. Model pendampingan tersebut diharapkan dapat menjadi embrio Agriculture Extension Service Station yang harus kita miliki di masa depan.

Salah satu contohnya adalah manfaat keberadaan ADS bagi petani mitra. Data pendapatan beberapa petani mitra ADS selama bulan Juni, Juli, dan Agustus 2016 menunjukkan petani dengan luas lahan 7 ribu meter persegi mendapatkan hasil penjualan sebesar 23.3 juta rupiah per tiga bulan. Sementara itu petani dengan luas lahan hanya 500 meter persegi mendapatkan hasil penjualan sebesar 2.7 juta rupiah per tiga bulan.

Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memaksa para petani sayuran Indonesia yang mayoritas belum melaksanakan Good Agricultural Practices (GAP) harus berkompetisi sendiri di pasar internasional. Seberapa mampu petani sayuran Indonesia bersaing dengan petani negara tetangga? Berdasarkan nilai produktivitas rata-rata sayuran di Indonesia (10,090 kg/ha) masih lebih rendah dan jauh dari potensi yang ada apabila dibandingkan dengan China (23,885) kg/ha). Bahkan sejak tahun 2008,  Vietnam (15,945 kg/ha) sudah mulai menyalip tingkat produktivitas rata-rata sayuran Indonesia (FAOSTAT, 2015). Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh ketertinggalan Indonesia dalam penggunaan teknologi maju (advanced crop management) apabila dibanding dengan beberapa tetangga tersebut.

Thailand dan Malaysia masih menjadi pemain utama eksportir sayuran di kawasan ASEAN. Kondisi ini cukup sulit untuk disaingi oleh negara lain termasuk Indonesia. Produk sayuran Indonesia sering diekspor ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, namun terkadang mendapat penolakan karena residu pestisidanya melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Hal ini terjadi karena penyemprotan pestisida yang tidak terkontrol pada saat pertanaman, sehingga masih tersisa sampai saat panen.  Salah satu cara mencegah terulangnya kejadian tersebut adalah dengan menerapkan Good Agricultural Practice (GAP) sayuran atau Pedoman Budidaya Sayuran yang Baik.

“Sampai saat ini para petani sayuran kesulitan mendapatkan rujukan berapa dosis pemupukan yang tepat sesuai dengan kesuburan tanah. Ini karena fokus utama pemerintah pada tanaman padi, jagung, dan kedelai, menyebabkan terlambatnya penetapan standar rekomendasi pemupukan tanaman sayuran berdasar analisis tanah. Di negara maju standar pemupukan tanaman sayuran berdasar analisis tanah telah dibangun puluhan tahun bahkan ada yang lebih dari seratus tahun lalu,” terangnya.

Rekomendasi pemupukan tanaman sayuran yang ramah lingkungan harus dikembangkan ke depan di Indonesia. Selain itu, introduksi teknologi yang digunakan pada industri pembibitan merupakan salah satu prioritas pilihan, sebab ke depan teknologi ini berpotensi menjadi salah satu bisnis besar di bidang hortikultura. Dan kemudahan mendapatkan benih varietas baru sayuran tertentu yang diimpor dari negara lain akan memberi kesempatan kepada petani untuk dapat menanam sayuran tersebut di Indonesia.

Sumber: alumniipb.org

Indeks

Copyright © 2017  Agribusiness Development Station

Jl. Carang Pulang No.1, Cikarawang, Dramaga, Bogor, Jawa Barat 16680, Indonesia

Phone: +62 251 8425627 | Fax: +62 251 8425712 | Mail: info@adsipb.com